Minggu, 30 Desember 2012

REVIEW 1 : ABSTRAKSI, PENDAHULUAN & PERMASALAHAN


RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN BISNIS SEBAGAI ALTERNATIF STRATEGI DALAM RANGKA MEMPERKUAT IDENTITAS KOPERASI
OLEH :
Adenk Sudarwanto
JURNAL STIE SEMARANG, VOL 4, NO 1, Edisi Februari 2012 (ISSN : 2252-7826)
Abstraksi
Kelangsungan hidup koperasi tergantung dari kesadaran anggota untuk menjalankan prinsip indentitas koperasi. Jika prinsip identitas koperasi tidak dijalankan, maka sesungguhnya telah terjadi pergeseran dan tidak lagi dapat disebut sebagai koperasi, melainkan sebuah perusahaan seperti pada umumnya yang berorientasi pada kepentingan pemilik (pemegang saham). Gejala ini ditandai dengan seberapa besar usaha koperasi melayani kebutuhan non anggota. Semakin besar melayani kebutuhan non anggota, maka telah terjadi penggeseran menjadi perusahaan murni (bukan koperasi). Dengan demikian anggota merasakan bahwa koperasi sudah tidak dapat memberikan kemanfaatan lagi, akhirnya menjadi bentuk bisnis sebagai perusahaan murni non koperasi. Kasus konkrit telah terjadi di Indonesia, Gerakan Koperasi Indonesia melalui BUKOPIN puncaknya (kini telah diambil alih APEK Bank) melayani lebih dari 50% dari pinjamannya untuk organisasi non koperasi (Juli 1987) dan sekarang semakin jelas sudah bukan lagi menjadi organisasi koperasi murni,melainkan telah berubah menjadi lembaga bisnis non koperasi.
Kata kunci : restrukturisasi, koperasi

PENDAHULUAN
Tiga prinsip identitas (tanpa mengabaikan prinsip yang lain) dalam koperasi adalah keanggotaan bersifat terbuka dan sukarela, adanya pembatasan atas modal dengan dasar satu orang satu suara, serta alokasi sisa hasil usaha sebanding dengan transaksi yang dilakukan oleh anggota. Makna prinsip identititas ini menuntut kesadaran anggota bahwa kelangsungan hidup koperasi sangat tergantung dari partisipasi para anggota koperasi sebagai pemilik sekaligus sebagai konsumen. Inilah yang membedakan koperasi dengan badan usaha yang lain. Dalam praktik sering dijumpai bisnis koperasi tidak hanya mengandalkan peran para anggotanya, tetapi juga melibatkan peran non anggota koperasi yang kadang porsi kontribusi pembentuk hasil usaha lebih besar dibandingkan dengan partisipasi para anggotanya. Pertanyaannya adalah apakah bisnis yang dijalankan koperasi semacam itu secara normatif sudah sesuai dengan prinsip identitas yang dimiliki koperasi ?

Masalah-masalah usaha dengan non anggota bukan sesuatu yang tabu bagi koperasi, tetapi, logika atas prinsip identitas koperasi bila diterapkan, maka semakin banyak peran dan jumlah usaha “anggota” yang dilayani oleh perusahaan, maka perusahaan akan semakin berubah ke dalam bentuk “ koperasi” Demikian pula menjadi sebaliknya, semakin perusahaan terlibat dalam usaha dengan non-anggota, maka semakin mungkin ia melepaskan sifat-sifat koperasinya dan kemudian secara bertahap berubah menjadi organisasi yang didominasi oleh para pemegang saham/modal. Untuk menjelaskan logika atas prinsip identitas koperasi tersebut dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1 : Jumlah usaha koperasi dengan non anggota




Kasus konkrit terjadi di Indonesia, Gerakan Koperasi Indonesia melalui BUKOPIN puncaknya (kini telah diambil alih APEK Bank) melayani lebih dari 50% dari pinjamannya untuk organisasi non koperasi (Juli 1987) dan sekarang semakin jelas sudah bukan lagi menjadi organisasi koperasi murni,melainkan telah berubah menjadi lembaga bisnis non koperasi.

Pertanyaan kedua mengapa masih ada bisnis yang dijalankan koperasi sering tidak mencerminkan identitas murni sebagai koperasi ?

Jawaban yang paling umum adalah kurangnya pemahaman anggota tentang makna partisipasi karena keterbatasan sumber daya dan adanya peluang bagi manajemen yang dijalankan oleh “manajer” untuk meraih keuntungan lebih besar dengan mengabaikan identitas koperasi. Suatu hepotesis dasar tentang keanggotaan koperasi dapat diformulasikan sebagai berikut :

Orang menjadi anggota koperasi jika :
1. Manfaat koperasi lebih besar dibandingkan manfaat non koperasi atau
2. Manfaat koperasi lebih besar dibandingkan dengan manfaat pesaing koperasi atau
3. Keuntungan/keunggulan koperasi lebih besar dibandingkan dengan keunggulan pesaing

Pengertian manfaat tak hanya mencakup tujuan yang bersifat ekonomis semata melainkan juga mencakup tujuan non ekonomi, termasuk harapan-harapan individu (self interested). Dengan kata lain apabila sepanjang koperasi mampu memberikan manfaat lebih bagi anggotanya, maka akan mendorong kesadaran anggotanya untuk berpartisipasi, dan implementasinya penerapanan manajemen koperasi akan mempertahankan identitas koperasi sebagai lembaga bisnis.

PERMASALAHAN
Banyak permasalahan yang dihadapi koperasi pada era kemajuan tehnologi informasi dan persaingan yang makin kompetitif terutama yang berkaitan dengan paradigma manajemen sehubungan dengan kendali bisnis berada ditangan customer/ anggota yang dilayani. Masalah-masalah tersebut mencakup hubungan identitas koperasi baik secara internal maupun eksternal kaitannya dengan manfaat koperasi dibandingkan dengan lembaga bisnis non koperasi, serta strategi koperasi dalam mempertahankan identitas ditengah lingkungan bisnis yang hyper competitive.
Nama   : Zainul Arifin
NPM   : 27211720
Kelas   : 2EB09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar