Minggu, 30 Desember 2012

REVIEW 1 : ABSTRAK, PENDAHULUAN & METODOLOGI


PERAN DAN UPAYA KOPERASI PETERNAK SAPI PERAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SUSU DI JAWA BARAT
(The Role and Effort of Dairy Farming Cooperation to increase Milk Quality in West Java)
OLEH :
E.MARTINDAH dan R.A. SAPTATI

ABSTRACT
There is still a gap between national milk production and demand, in which only be satisfied up to 30% of the total production. Assessment on the role of dairy farming cooperation to increase milk quality had been done in 2006 in West Java. The study used survey method involved KPSBU Lembang and KSU Tandangsari, Sumedang. The result shows that milk quality include fat, solid and solid non fat (SNF) in those two cooperations are relatively good, however the TPC is still under SNI standard. KPSBU Lembang and KSU Tandangsari have been proactive to control the disease in dairy cow such us screening to detect Brucellosis. There are 88 dairy cows positive Brucellosis in KPSBU area, whereas in KSU Tandangsari 400 samples were tested and all were nwgative. Effort to control subclinical mastitis was done in each cooling unit, so that treatment could be applied when it was detected. All milk from cows treated with antibiotic was dumped to avoid antibiotic residu. Those efforts were expected to increase milk quality especially in reducing TPC, so that milk price in the farmer level was increased.
Keywords: Cooperation role, dairy cattle, milk quality

Abstrak
Sampai saat ini masih terjadi kesenjangan antara produksi susu nasional dengan permintaan, sehingga produksi didalam negeri baru mampu mencukupi 30% dari total kebutuhan. Jika kualitas dan kuantitas susu dalam negeri tidak meningkat, IPS terpaksa harus meningkatkan jumlah susu yang diimpor. Suatu kajian tentang peran koperasi peternak sapi perah dalam meningkatkan kualitas susu telah dilakukan di wilayah Jawa Barat pada akhir tahun 2006. Penelitian dilakukan dengan metode survei terhadap KPSBU Lembang dan KSU Tandangsari,Sumedang. Hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas susu yang dihasilkan peternak di kedua koperasi rata-rata sudah cukup bagus walaupun masih di bawah standar yang dipersyaratkan oleh SNI, terutama untuk jumlah kuman dalam susu. Nilai kadar bahan kering, bahan kering tanpa lemak dan kandungan lemak susu, rata-rata telah memenuhi syarat. KPSBU Lembang dan KSU Tandangsari juga proaktif melakukan pencegahan dan pengobatan penyakit pada sapi perah yang berpotensi menurunkan kuantitas dan kualitas susu peternak. Screening test dilakukan untuk mendeteksi penyakit Brucellosis, dimana pada wilayah KPSBU terdapat 88 ekor sapi positif, sedangkan di KSU Tandangsari dari 400 sampel yang diuji belum ada yang menunjukkan nilai positif. Upaya pengendalian penyakit mastitis subklinis juga telah dilakukan per cooling unit, sehingga treatment dapat dilakukan bagi sapi yang terdeteksi. Susu dari ternak-ternak yang sedang dalam pengobatan mastitis dibuang ke prosesing limbah untuk menghindari cemaran antibiotik. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas susu, terutama untuk menurunnya jumlah kuman sehingga harga jual susu di tingkat peternak dapat meningkat.
Kata kunci: Peran koperasi, sapi perah, kualitas susu

PENDAHULUAN
Konsumsi susu masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan konsumsi susu di Negara berkembang lainnya di Asia, masih sangat rendah. Hal ini dikarenakan harga produk susu di tingkat konsumen cukup mahal, sekitar 4-5 kali dari harga susu di tingkat peternak. Disisi lain, produksi susu dalam negeri, baru dapat memenuhi kebutuhan nasional sekitar 30%, sedangkan sisanya masih harus diimpor. Hal ini dikarenakan keterbatasan dari berbagai aspek seperti produksi, kelembagaan dan kebijakan. YUSDJA (2005) menyatakan bahwa salah satu kelemahan ini adalah akibat belum dikuasainya kemampuan manajemen dan teknologi sapi perah. Kenyataan ini mengakibatkan rendahnya produktivitas dan lambatnya perkembangan industri sapi perah rakyat.

Pengembangan usaha peternakan sapi perah sebagai salah satu komponen subsector peternakan sangat prospektif mengingat (i) pasar domestik yang terus meningkat, (ii) ketersediaan sumber daya pakan dan teknologi, serta (iii) harga susu dunia yang semakin meningkat. Sampai dengan tahun 1999 perkembangan industri sapi perah diatur oleh pemerintah baik dalam pemasaran, tataniaga, impor sapi perah dan kebijakan yang mengharuskan IPS menyerap susu segar dari koperasi jika ingin mendapatkan ijin impor susu (YUSDJA, 2005). Pengembangan agri bisnis sapi perah rakyat di Indonesia meingkat sejak SKB Tiga Menteri 1982, yakni Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian. Dalam rumusan SKB tersebut ada dua dasar yang digunakan yakni agribisnis sapi perah dikembangkan melalui koperasi/KUD sapi perah dan pemasaran susu diatur oleh koperasi dan industri pengolahan susu (IPS). Koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota melalui penyediaan lapangan usaha yakni beternak sapi perah. Pembentukan koperasi bersifat top-down, dana disediakan dalam bentuk pengadaan bibit sapi perah impor untuk dibagikan kepada anggota sebagai pinjaman. Peternak harus mengembalikan pinjaman melalui hasil susu dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh koperasi. Produksi susu sapi perah dari anggota dijamin akan ditampung koperasi dan dipasarkan ke IPS.

Pemberlakuan persyaratan kualitas susu oleh IPS kepada koperasi menjadi pukulan berat bagi usaha sapi perah di Indonesia. Persyaratan tersebut adalah nilai berat jenis 1,028, kadar total nilai bahan kering atau Total Solid (TS) berkisar antara 11-18 %, bahan kering tanpa lemak atau Solid Non Fat (SNF) minimal 7,8%, kandungan lemak (Fat) antara 3,2-3,5% dan jumlah kandungan kuman dalam susu (TPC) dibawah 10 juta/ml susu. Ketentuan tersebut masih dibawah Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3141-1998 yang mensyaratkan nilai SNF minimal 8%, dan jumlah kuman maksimal 1 juta/ml susu (http://www.win2pdf.com, 2008). Pemberlakuan persyaratan tersebut berdampak pada banyaknya susu peternak yang ditolak oleh IPS karena kualitasnya yang rendah. Rendahnya marjin yang diterima oleh peternak dan tingginya biaya produksi terutama biaya pakan mengakibatkan peternak tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola usahanya dengan optimal, sehingga jumlah dan kualitas susu yang dihasilkan rendah. Disamping itu kemampuan peternak dalam good farming practice juga masih rendah. Jika kualitas susu peternak rendah, IPS akan meningkatkan impor susu untuk bahan baku produksinya sehingga merugikan peternak. Berdasarkan kondisi tersebut, beberapa koperasi berusaha keras untuk dapat meningkatkan kualitas susu dengan berbagai upaya yang terkait dengan perbaikan manajemen peternakan sapi perah seperti penyediaan stok bibit yang baik, sarana pemerahan, pakan/konsentrat berkualitas dan upaya merubah sikap peternak melalui penyuluhan, pelatihan, serta pelayanan kesehatan hewan.

Pada awal tahun 2007 harga susu di tingkat peternak sudah membaik, akibat kenaikan harga susu gobal. Peternak memperoleh harga penjualan antara Rp. 2.250 – Rp. 3.000 per liter, walaupun masih dibawah harga susu impor yang mencapai Rp. 5.000,-. Permintaan susu dalam negeri mengalami peningkatan. Beberapa industri pengolahan susu (IPS) dalam negeri telah menaikkan harga pembelian susu segar di Jawa Timur, berkisar 2-3% atau sekitar Rp 60 - Rp. 100,- per liter. Diharapkan kenaikan harga susu segar tersebut, akan memacu para petani untuk menambah jumlah ternak sapi yang dipelihara dan meningkatkan kualitas susunya. Hal ini sekaligus akan meningkatkan produksi susu dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap susu impor akan semakin kecil (PURBA, 2007).

Peluang tersebut harus dimanfaatkan koperasi untuk lebih meningkatkan kualitas susu sapi anggotanya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak. Beberapa koperasi susu di wilayah Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dimana kualitas susu dan harga yang diterima peternak telah semakin membaik. Makalah ini mencoba mengkaji peran dan upaya koperasi di wilayah Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas susu.

METODOLOGI
Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Bandung pada bulan November – Desember 2006, terhadap koperasi susu KPSBU Lembang dan KSU Tandangsari, Sumedang. Penentuan koperasi dilakukan secara purposive, berdasarkan kondisi topografi yang mewakili dataran tinggi dan dataran sedang. Kajian ini menggunakan metode survei dengan strategi studi kasus yang meliputi observasi lapangan baik ke koperasi maupun kandang peternak, wawancara mendalam dengan menggunakan kuesioner terstruktur terhadap informan kunci (pengurus koperasi dan peternak), serta kajian dokumen (data sekunder). Data pengkajian terdiri atas data primer dan data sekunder dan dianalisis secara deskriptif (SIEGAL, 1998).
Nama  : Zainul Arifin
NPM   : 27211720
Kelas   : 2EB09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar